JAKARTA, NANGGROE.MEDIA | Di tengah semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi pemerintah daerah, peningkatan kapasitas seorang kepala daerah tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan.
Hal inilah yang tergambar dari keikutsertaan Wali Kota Lhokseumawe, Dr. Sayuti Abubakar, S.H., M.H., dalam Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah (KPPD) Angkatan III Tahun 2026 di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI).
Salah satu agenda penting dalam rangkaian pendidikan tersebut adalah sesi dialog inspiratif bersama Presiden ke-6 Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Pertemuan itu bukan sekadar forum seremonial, tetapi menjadi ruang transfer pengalaman kepemimpinan dari seorang mantan kepala negara kepada para kepala daerah yang kini berada di garis depan pelayanan publik.
SBY, yang memimpin Indonesia selama dua periode, menekankan bahwa seorang pemimpin daerah harus mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan lokal dan kepentingan nasional.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah dinamika ekonomi global, perkembangan teknologi, hingga tantangan sosial yang menuntut pemerintah daerah bergerak cepat namun tetap berpijak pada prinsip tata kelola yang baik.
Bagi Lhokseumawe, kehadiran Sayuti Abubakar dalam forum strategis seperti ini memiliki makna yang lebih luas. Kota yang sedang berupaya mempercepat pembangunan dan meningkatkan daya saing membutuhkan pemimpin yang tidak hanya fokus pada penyelesaian persoalan sehari-hari, tetapi juga mampu membaca arah perubahan nasional dan global.
Melalui KPPD Lemhannas RI, para peserta tidak hanya memperoleh materi akademik, tetapi juga dibekali perspektif mengenai geopolitik, ketahanan nasional, kepemimpinan strategis, hingga pengambilan keputusan dalam situasi yang kompleks.
Bekal tersebut diharapkan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang lebih adaptif ketika kembali memimpin daerah masing-masing.
Keikutsertaan Sayuti Abubakar juga menunjukkan bahwa penguatan kapasitas kepemimpinan menjadi bagian dari investasi jangka panjang dalam pembangunan daerah.
Di era ketika masyarakat semakin kritis terhadap kualitas pelayanan publik, kepala daerah dituntut memiliki kemampuan berpikir strategis, membangun kolaborasi, serta menghadirkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Pesan SBY mengenai pentingnya integritas, persatuan, dan orientasi pelayanan menjadi pengingat bahwa keberhasilan seorang kepala daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuannya membangun pemerintahan yang dipercaya masyarakat.
Bagi Pemerintah Kota Lhokseumawe, momentum ini dapat menjadi modal penting untuk memperkuat kualitas birokrasi dan tata kelola pemerintahan.
Wawasan yang diperoleh dari Lemhannas diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi seorang wali kota, tetapi mampu diterjemahkan menjadi kebijakan yang mempercepat pembangunan, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta memperkuat daya saing Lhokseumawe di masa mendatang.
Pada akhirnya, pendidikan kepemimpinan seperti KPPD bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan membentuk cara pandang seorang pemimpin dalam menghadapi perubahan.
Dengan mengikuti forum yang mempertemukan para kepala daerah dengan tokoh-tokoh nasional seperti SBY, Sayuti Abubakar membawa pulang bukan hanya pengalaman, tetapi juga perspektif baru yang dapat menjadi bekal dalam memimpin Lhokseumawe menuju pemerintahan yang lebih adaptif, profesional, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.

