JAKARTA, NANGGROE.MEDIA | Gedung DPR RI di Senayan kembali menjadi saksi lahirnya babak baru perjalanan politik nasional. Di tengah rapat paripurna yang dipimpin Ketua DPR RI Puan Maharani, nama Adela Kanasya resmi diumumkan sebagai anggota DPR RI melalui mekanisme pergantian antarwaktu (PAW), menggantikan ayahnya sendiri, Adies Kadir, yang kini dipercaya menjabat sebagai hakim Mahkamah Konstitusi (MK).
Momentum itu bukan sekadar pergantian kursi parlemen biasa. Ada cerita tentang estafet perjuangan, amanah politik, hingga sorotan publik terhadap fenomena regenerasi kekuasaan yang kembali muncul di panggung nasional. Dari ayah ke anak, tongkat perjuangan politik kini berpindah tangan.
Di ruang sidang yang penuh dinamika politik nasional itu, Adela tampil sebagai wajah baru parlemen. Sosok muda berlatar belakang pendidikan kedokteran tersebut menjadi perhatian banyak pihak karena datang bukan dari jalur politik konvensional. Ia dikenal sebagai dokter estetik lulusan Universitas Airlangga Surabaya yang sebelumnya lebih banyak berkecimpung di dunia kesehatan.
Namun politik tampaknya bukan hal asing dalam kehidupannya. Sebagai putri Adies Kadir politisi senior Partai Golkar yang telah lama malang melintang di Senayan Adela tumbuh di lingkungan yang akrab dengan dinamika kekuasaan, kebijakan publik, dan pertarungan gagasan.
Pelantikannya memunculkan satu pesan kuat bahwa politik Indonesia masih sangat dipengaruhi garis keluarga. Fenomena ini kerap memunculkan dua sudut pandang berbeda di tengah masyarakat. Di satu sisi, regenerasi keluarga dianggap sebagai bentuk kesinambungan pengalaman dan jaringan politik. Namun di sisi lain, publik juga mempertanyakan soal ruang kompetisi yang dinilai belum sepenuhnya terbuka bagi semua kalangan.
Meski demikian, Adela datang dengan modal politik yang tidak kecil. Pada Pemilu 2024 lalu, ia berhasil meraih 12.792 suara di Daerah Pemilihan Jawa Timur I. Jumlah itu menjadikannya sebagai peraih suara terbanyak kedua di internal Partai Golkar pada dapil tersebut, tepat di bawah ayahnya yang memperoleh 147.185 suara.
Capaian itu menunjukkan bahwa namanya mulai dikenal masyarakat, meski tak bisa dipungkiri pengaruh besar sang ayah turut menjadi faktor penting dalam perjalanan politiknya.
Bagi sebagian orang, langkah Adela dianggap sebagai simbol lahirnya generasi baru politisi muda perempuan di parlemen. Di usia yang relatif muda, ia kini memikul tanggung jawab besar sebagai wakil rakyat di tengah tingginya tuntutan publik terhadap DPR RI.
Tak sedikit yang berharap latar belakang medis yang dimilikinya dapat memberi warna baru dalam pembahasan isu kesehatan nasional. Terlebih, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan di sektor layanan kesehatan, pemerataan tenaga medis, hingga peningkatan kualitas pelayanan publik.
Namun jalan yang akan dihadapi Adela tentu tidak mudah. Status sebagai anak dari tokoh politik senior membuat setiap langkahnya akan mendapat perhatian lebih besar dibanding anggota DPR lainnya. Publik akan melihat apakah ia benar-benar mampu menunjukkan kapasitas pribadi atau hanya sekadar melanjutkan pengaruh keluarga di panggung kekuasaan.
Di balik semua sorotan itu, pelantikan Adela Kanasya sejatinya menggambarkan satu realitas politik Indonesia hari ini: kekuasaan sering kali tidak benar-benar pergi, melainkan berpindah dari satu tangan ke tangan lain dalam lingkar keluarga yang sama.
Dari ayah ke anak, perjalanan itu kini berlanjut di Senayan.
Waktu yang akan menjawab apakah Adela mampu menciptakan identitas politiknya sendiri, atau tetap berada di bawah bayang-bayang nama besar sang ayah. Namun satu hal yang pasti, sejak hari pelantikan itu, publik mulai menaruh perhatian pada langkah perempuan muda tersebut dalam menapaki jalan panjang politik nasional.

