LHOKSEUMAWE, NANGGROE.MEDIA | Pemerintah Kota Lhokseumawe mengapresiasi perhatian Kementerian Ekonomi Kreatif terhadap para pelaku usaha kriya di daerah, khususnya masyarakat yang terdampak bencana banjir.
Apresiasi tersebut disampaikan Wali Kota Lhokseumawe Dr. Sayuti Abubakar, S.H., M.H. saat menghadiri kegiatan Akselerasi Produk Kriya (Kriyasi) Sulam dan Anyam Tahun 2026, yang berlangsung di Hotel Diana, Gampong Mon Geudong, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Senin (31/8/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Direktur Kriya Kementerian Ekonomi Kreatif, Neli Yana, S.Sos., M.Si., serta diikuti sebanyak 52 peserta yang terdiri dari 24 perajin anyaman dan 28 perajin sulam bordir.
Menurut Sayuti, kegiatan ini memiliki arti penting karena tidak hanya berkaitan dengan pengembangan produk kriya, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana, terutama bagi warga yang terdampak banjir dan kehilangan atau mengalami gangguan terhadap sumber penghasilan.
“Atas nama Pemerintah Kota Lhokseumawe, kami mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Ekonomi Kreatif yang telah memberikan perhatian kepada para perajin kita. Kegiatan ini sangat bermanfaat, khususnya bagi korban banjir yang ada di Kota Lhokseumawe,” ujar Sayuti.
Ia menilai sektor ekonomi kreatif, khususnya kerajinan sulam, bordir dan anyaman, memiliki potensi besar untuk membantu masyarakat bangkit kembali setelah bencana.
Karena itu, Sayuti berharap program pendampingan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan saja. Menurutnya, para perajin juga membutuhkan dukungan berupa mesin dan peralatan produksi agar dapat meningkatkan kapasitas, kualitas serta nilai jual produk mereka.
“Kami berharap ke depan ada pendampingan yang berkelanjutan. Kalau memungkinkan, para perajin juga dapat dibantu dengan mesin atau alat produksi. Dengan begitu, mereka bisa lebih cepat bangkit dan meningkatkan hasil produksinya,” katanya.
Sayuti menambahkan, dukungan terhadap para perajin merupakan bagian penting dari pemulihan pascabencana. Masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga membutuhkan sarana agar dapat kembali bekerja dan menghasilkan pendapatan secara mandiri.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Lhokseumawe juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto atas kesigapan pemerintah dalam penanggulangan bencana di Aceh.
“Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo yang telah sigap dalam menanggulangi bencana di Aceh, baik dari aspek penanganan bencana maupun berbagai kebutuhan masyarakat terdampak. Kami berharap perhatian dan dukungan untuk pemulihan masyarakat terus diberikan,” ungkap Sayuti.
Sementara itu, kehadiran Direktur Kriya Kementerian Ekonomi Kreatif Neli Yana dalam kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah pusat dan Pemerintah Kota Lhokseumawe dalam mengembangkan sektor kriya.
Sebanyak 52 peserta yang terlibat diharapkan dapat memperoleh manfaat nyata dari kegiatan Kriyasi 2026, sekaligus menjadi bagian dari gerakan membangkitkan kembali ekonomi masyarakat melalui potensi lokal.
Bagi Pemerintah Kota Lhokseumawe, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali fasilitas yang rusak. Membangkitkan kembali mata pencaharian masyarakat juga menjadi bagian penting dari proses pemulihan.
Melalui penguatan sektor sulam, bordir dan anyaman, para perajin diharapkan mampu kembali produktif, meningkatkan pendapatan keluarga, serta menjadikan produk kriya Lhokseumawe semakin dikenal dan memiliki daya saing di pasar yang lebih luas.

