TAKENGON, NANGGROE.MEDIA | Sejak 18 April 2026, Gas LPG nonsubsidi mengalami kenaikan di Kabupaten Aceh Tengah, hal ini dirasakan dampaknya oleh masyarakat khususnya bagi pelaku usaha.
Meski tidak terjadi kelangkaan maupun antrean panjang di tingkat pangkalan, lonjakan harga Gas LPG cukup signifikan terutama yakni Gas LPG 12 kilogram. Dilaporkan, Gas LPG dengan berat 12 kilogram kini menembus harga Rp 250.000 per tabung. Kenaikan harga tersebut membuat pelaku usaha harus memutar otak untuk menekan biaya operasional.
Kenaikan harga Gas LPG ini menuai berbagai tanggapan dari berbagai kalangan masyarakat, khususnya bagi para pelaku usaha tingkat bawah yang selalu bergantung pada penggunaan Gas untuk operasional sehari-hari.
Sastra, salah seorang pelaku usaha di Sema Coffe Premium, ia mengaku keberatan dengan lonjakan harga LPG 12 kilogram yang kerap digunakan untuk memasak di dapur warung kopi miliknya. “Ya sangat memberatkan sekali,” ujarnya Selasa, 21 April 2026.
Dia menyebut, sebenarnya tidak mempermasalahkan soal adanya kenaikan harga, namun lonjakan yang cukup signifikan dari kisaran Rp 200.000 menjadi Rp 250.000 membuatnya kesulitan.
Akibatnya, dirinya harus memutar otak untuk menyesuaikan harga menu secara hati-hati agar tidak kehilangan pelanggan.
Ia berharap, harga LPG dapat kembali disesuaikan ke kondisi normal sehingga tidak membebani pelaku usaha kecil.

Tak hanya pelaku usaha, petugas SPBU Kemili, Yusuf menyampaikan bahwa ketersediaan stok LPG nonsubsidi di Aceh Tengah masih dalam kondisi aman. Menurutnya, daya beli masyarakat terhadap LPG nonsubsidi juga masih terpantau normal.
“Stok tabung Gas masuk setiap minggu. Untuk LPG 12 kilogram sebanyak 168 tabung, dan LPG 5,5 kilogram sebanyak 78 tabung,” jelas Yusuf.
Meski stok masih aman, kenaikan harga LPG nonsubsidi ini diperkirakan tetap berdampak pada biaya operasional pelaku usaha dan pengeluaran rumah tangga di wilayah tersebut.

