Lubang Raksasa di Aceh Tengah Semakin Mengganas, Warga : Pemerintah Segera Cepat Tangani Lubang Raksasa

Foto : penampakan lubang raksasa melalui via udara.
(drone : Joe, anggota Humas Polres Bener Meriah)

NANGGROE.MEDIA, ACEH TENGAH | Kabar terbaru dari Aceh Tengah. Fenomena lubang raksasa akibat pergerakan tanah di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah dilaporkan semakin meluas dan mengganas.

Lubang yang menyerupai sinkhole ini, kini mulai memakan badan jalan alternatif warga. Akses yang sebelumnya digunakan untuk mobilitas perekonomian warga nyaris terputus total.

Berikut pantauan Nanggroe.media Senin (23/02/26), lubang raksasa yang terus melebar di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol. Pergerakan tanah yang aktif ini membuat lubang terus mendekati jalan alternatif warga.

Data terbaru menunjukkan, bahwa jalan alternatif yang menjadi urat nadi warga kini nyaris terputus, memaksa penutupan total untuk kendaraan roda dua maupun roda empat.

Lubang raksasa ini awalnya muncul sejak pertengahan Januari 2026, dan kini dilaporkan telah memakan luasan belasan hektar perkebunan warga. Menurut warga setempat, pergerakan tanah semakin cepat seiring tingginya curah hujan dan aliran air dari permukiman warga.

Pantauan Nanggroe.media saat berada dilokasi, kini warga mencari rute alternatif lain yang lebih jauh, lantaran jarak jalan alternatif yang hanya tersisa hitungan meter dari bibir tebing. Selain memutus akses, lubang ini juga mengancam infrastruktur listrik dan lahan perkebunan di wilayah tersebut.

Foto : akses jalan lintas Aceh Tengah – Bener Meriah di tutup total.
(Foto : Jurnalis Nanggroe.media)

Ismayadi, warga Desa Pondok Balik menyampaikan, bahwa lubang yang terjadi di wilayah Pondok Balik ini semakin meluas, bahkan jalan alternatif yang sebelumnya telah dibuka kini mulai terkikis hingga jalan tersebut sudah ditutup total.

”Jalan alternatif yang terbaru ini telah dialihkan dengan jarak yang cukup jauh. Jadi, kalau lubang ini tidak segera di tangani dengan cepat kemungkinan besar jalan nya yang baru akan putus juga,” ujarnya.

Sementara itu, warga Desa Blangpaku, Supriyono juga mengatakan lubang ini makin melebar sampai mengikis perkebunan warga setempat.

Tak hanya itu, faktor dari terkikis nya tanah ini disebabkan aliran air yang terus mengalir. ”Kalau menurut kami (warga) terkikisnya tanah ini dikarenakan aliran air dari atas yang terus mengalir. Kalau tidak cepat ditangani ini makin melebar,” ungkapnya.

Ia berharap kepada pemerintah untuk segera melakukan penanganan cepat agar lubang ini tidak terus melebar. ”Kami mohon tolonglah segera ditangani, ini lahan perkebunan kami mulai terkikis sedikit demi sedikit, karena inilah sumber mata pencaharian kami disini.” Harapnya.

Sementara, pemerintah Kabupaten Aceh Tengah bersama BPBD telah melakukan peninjauan dan mendesak percepatan kajian geologi untuk mengantisipasi meluasnya dampak ke permukiman warga.

Warga terus berharap, pemerintah dapat segera melakukan penanganan cepat agar pergerakan tanah ini tidak semakin meluas.

Warga juga dihimbau agar tidak mendekati area zona merah, karena pergerakan tanah terus aktif, demikian (**).

Komentar