
NANGGROE.MEDIA, BENER MERIAH | Ratusan korban banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Bener Meriah, Aceh masih harus bersabar menanti berdiri nya Hunian Sementara (Huntara). Meskipun pembangunan sebanyak 914 unit Huntara terus dikebut oleh Pemerintah Kabupaten Bener Meriah, sementara itu target penyelesaian semakin dekat. Rabu, 21 Januari 2026.
Pantauan Nanggroe.media di dua lokasi pembangunan Huntara di Bener Meriah, tepatnya berlokasi di Desa Tunyang, Kecamatan Timang Gajah dan Desa Ketipis, Kecamatan Bukit. Seperti yang terlihat saat ini aktifitas pembangunan sedang tahap proses pematangan atau permulaan awal.

Pemerintah daerah setempat terus mengupayakan percepatan pembangunan sebanyak 914 unit Huntara yang tersebar di 35 titik lokasi yang berbeda.
Pembangunan ini merupakan salah satu menjadi prioritas, mengingat ribuan warga yang terdampak bencana masih bertahan di tenda pengungsian atau fasilitas umum lainnya.
Dilaporkan, seluruh Huntara yang ada di Kabupaten Bener Meriah ini ditargetkan bisa rampung dan di tempati warga terdampak sebelum Bulan Suci Ramadhan tiba, agar warga tidak lagi merasakan dinginnya malam dan panasnya terik matahari di tenda-tenda darurat tersebut.
Namun, dari pantauan di lokasi Huntara yang sedang tahap proses ini, progres di beberapa lokasi masih bervariasi. Sejumlah kendala, seperti ketersediaan material dan kondisi cuaca, sedikit banyak nya mempengaruhi laju pekerjaan di lapangan.
Nanggroe.media sempat mewawancarai salah seorang warga yang terdampak bencana dilokasi kejadian awal. Suryana (49), merupakan salah satu diantara warga yang mengalami dampak bencana banjir bandang dan tanah longsor di wilayah Kecamatan Timang Gajah, dirinya mengaku saat ini bermukim di tenda pengungsian yang sudah beberapa waktu terakhir.
Suryana menceritakan, di tenda pengungsian dirinya bersama warga lainnya merasa tidak nyaman. Bahkan, ketika malam hari terasa dingin dan siang hari ketika cuaca terik begitu panas di dalam tenda.
”Kami ditenda merasa tidak nyaman pak, kalau malam itu terasa dingin dan kalau siang hari cuaca panas di dalam tenda juga terasa panas, kami susah,” ungkapnya dengan nada sedih.
Dia pun (Suryana), menceritakan soal kejadian awal berlangsung nya banjir dan tanah longsor di Desa nya. Ia mengaku, saat kejadian itu dirinya bersama warga lainnya panik, longsoran tanah yang meratakan Desa nya.
Suryana, mewakili warga lainnya yang mengalami dampak bencana berharap agar pemerintah segera membangun Hunian dengan segera, mengingat Bulan Suci Ramadhan tidak lama lagi tiba agar warga dapat menjalankan ibadah puasa berjalan dengan lancar seperti Bulan Suci Ramadhan yang lalu.
”Kami memohon kepada Pemerintah Daerah maupun pusat untuk segera dipercepat pembangunan hunian agar kami bisa merasakan nyaman apalagi Bulan Suci Ramadhan akan segera tiba. Kami ingin bisa menjalankan ibadah puasa dengan nyaman, seperti tarawih dan lainnya. Kami memohon kepada Pemerintah.” Harapnya.

Sementara, Kepala Dinas Komunikasi dan informatika Kabupaten Bener Meriah, Ilham Abdi saat diwawancarai diruang kerjanya menyampaikan bahwa, Huntara yang di bangun di Kabupaten Bener Meriah berjumlah sebanyak 914 unit yang tersebar di 35 titik lokasi.
Ia menyebut, di beberapa lokasi seperti di Kecamatan Mesidah dan Syiah Utama masih dalam tahap proses berjalannya pembangunan. Selain itu di lokasi-lokasi lainnya sedang dalam tahap proses pematangan.
”Pembangunan Huntara ini di targetkan paling lama pada awal Bulan Ramadhan. Semua Huntara atau pengungsi sudah dapat menempati Huntara tersebut.” ujarnya.
Terkait soal lambatnya pembangunan Huntara ini, Kadis Kominfo itu mengatakan, bahwa kendala yang dihadapi dalam proses pembangunan Huntara yaitu proses pengiriman material, dikarenakan secara umum Sumatera (Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat) terdampak akibat bencana alam.
”Di tiga Provinsi ini dilakukan proses pembangunan Huntara, hal ini mengakibatkan keterbatasan material bangunan,” terangnya.


Komentar